Grafik 1: Alpha sebagai Fungsi T1
Grafik ini menunjukkan hubungan antara suhu T1 (suhu drying) dan Alpha (nilai heat exchange rate) untuk beberapa nilai Alpha yang berbeda (40%, 50%, dan 63%).
Ketika T1 meningkat, nilai Alpha cenderung menurun, yang menunjukkan bahwa pada suhu yang lebih tinggi, sistem menjadi lebih efisien dalam pertukaran panas.
Rumus untuk Grafik 1:
Alpha = (T1 - T2) / (T1 - T3)
Dimana:
- T1 = Suhu drying (°C)
- T2 = Suhu exhaust drying (°C)
- T3 = Suhu inlet material (°C)
Grafik 2: T2 sebagai Fungsi T1
Grafik ini menggambarkan bagaimana suhu T2 (suhu exhaust drying) berubah seiring perubahan T1. Nilai T2 dihitung berdasarkan nilai Alpha (40%, 50%, dan 63%).
Semakin tinggi suhu T1, semakin tinggi suhu T2 yang dihasilkan, yang berpengaruh pada efisiensi pengeringan material.
Rumus untuk Grafik 2:
T2 = T1 * (1 - Alpha) + 15 * Alpha
Dimana:
- T1 = Suhu drying (°C)
- Alpha = Nilai heat exchange rate (0.4, 0.5, 0.63)
- 15 = Suhu inlet material (°C)
Grafik 3: Alpha sebagai Fungsi T2
Grafik ini menunjukkan hubungan antara suhu T2 (exhaust drying) dan nilai Alpha. Dengan suhu T1 tetap pada 120°C, grafik ini memperlihatkan bagaimana
Alpha berubah seiring perubahan suhu T2 dalam rentang 40°C hingga 102°C. Nilai Alpha cenderung meningkat dengan naiknya suhu T2, yang menunjukkan bahwa pada suhu
exhaust yang lebih tinggi, efisiensi pertukaran panas lebih baik.
Rumus untuk Grafik 3:
Alpha = (T1 - T2) / (T1 - T3)
Dimana:
- T1 = Suhu drying (°C) (tetap pada 120°C)
- T2 = Suhu exhaust drying (°C)
- T3 = Suhu inlet material (°C)
Parameter | Nilai |
---|---|
T1 (Suhu Drying) | 120 °C |
T3 (Suhu Inlet Material) | 15 °C |
Alpha 40% | 0.4 |
Alpha 50% | 0.5 |
Alpha 63% | 0.63 |
Grafik 1 - Alpha sebagai Fungsi T1:
Grafik ini menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya suhu T1 (suhu drying), nilai Alpha cenderung menurun. Ini berarti bahwa pada suhu drying yang lebih tinggi, efisiensi dalam pertukaran panas akan meningkat, yang berkontribusi pada penghematan energi. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan energi, suhu drying (T1) sebaiknya dipertahankan dalam kisaran yang lebih tinggi.
Grafik 2 - T2 sebagai Fungsi T1:
Grafik ini menggambarkan hubungan antara suhu T1 dan suhu T2 (suhu exhaust drying). Semakin tinggi suhu T1, semakin tinggi suhu T2 yang dihasilkan. Untuk mengoptimalkan penghematan energi, suhu exhaust (T2) sebaiknya dikelola dengan cermat agar tidak terjadi pemborosan energi pada pengeringan material.
Grafik 3 - Alpha sebagai Fungsi T2:
Dalam grafik ini, terlihat bahwa nilai Alpha meningkat dengan meningkatnya suhu T2. Ini menunjukkan bahwa suhu exhaust yang lebih tinggi memberikan efisiensi pertukaran panas yang lebih baik. Untuk mencapai penghematan energi yang maksimal, penting untuk menjaga suhu exhaust (T2) dalam kisaran yang optimal, yang akan membantu meningkatkan Alpha dan efisiensi pertukaran panas secara keseluruhan.
Untuk mengoptimalkan penghematan energi pada sistem pengeringan DFG-KI, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan:
Persamaan untuk Alpha (α):
Nilai Alpha dapat dihitung dengan persamaan berikut:
α = (T1 - T3) / (T1_max - T3_min)Dimana: - T1 adalah suhu drying (dalam °C). - T3 adalah suhu inlet material (dalam °C). - T1_max adalah suhu maksimal untuk drying (dalam °C). - T3_min adalah suhu minimal untuk inlet material (dalam °C). Variabel ini dapat disesuaikan menggunakan sliding, dengan batasan yang logis seperti: - T1_max antara 150°C hingga 250°C. - T3_min antara 10°C hingga 30°C. Persamaan ini memberikan hubungan linier antara suhu drying dan inlet material yang memungkinkan pengaturan optimal untuk efisiensi energi.
Persamaan untuk T2 (Suhu Exhaust):
Suhu exhaust T2 dapat dihitung menggunakan persamaan:
T2 = T1 - (Alpha * (T1 - T3))Dimana: - T2 adalah suhu exhaust drying (dalam °C). - Alpha adalah koefisien efisiensi pertukaran panas. - T1 adalah suhu drying (dalam °C). - T3 adalah suhu inlet material (dalam °C). Variabel ini juga dapat disesuaikan menggunakan sliding dengan batasan logis: - T1 antara 120°C hingga 220°C. - T3 antara 15°C hingga 25°C. - Alpha antara 0.4 hingga 0.7. Persamaan ini menggambarkan bagaimana suhu exhaust bergantung pada suhu drying, suhu inlet, dan efisiensi pertukaran panas.
Alpha (α): 0.5
T2 (Suhu Exhaust): 100°C